Tugas aku membahagiakanmu

by - Senin, Januari 09, 2017

Hai, perkenalkan aku Farah Retmalia.
Umurku 27 tahun.
Aku bekerja disalah satu kantor swasta di Jakarta.
Di Jakarta, aku mengontrak sebuah rumah di daerah Tebet berdua dengan adikku Karina Putri.
Adikku juga bekerja di salah satu BUMN yang ada di kota Jakarta.
Alhasil, kami berdua kakak beradik merantau mengadu nasib di Ibu Kota.
Sedangkan orang tua kami tinggal di Bandung.
Dan setiap weekend biasanya kami berdua akan pulang ke Bandung untuk bertemu dengan kedua orang tua kami.

......

"Nona Farah Retmalia"
"Nona Farah"
"Iya" seketika aku langsung membuka headset ku ketika mendengar namaku dipanggil oleh perempuan berseragam itu.

"Halo, gimana? Ada keluhan?"

"Alhamdulillah baik dan ga ada keluhan si sejauh ini"

"Oke, tiduran. Tarik nafas.. Ok.. ga ada apa-apa kayaknya. Hmm, kamu kok kurusan ya sekarang?"

"Masa sih dok?"

"Lagi banyak pikiran? Atau stress?"

"Engga ada sih dok, I'm Ok" jawabku sambil tersenyum pada si dokter.

"Hidup cuma sekali. Dan wajar sih kalau banyak masalah dalam hidup tapi ga boleh sampai stress ya. Saya sering bilang ke pasien saya walaupun ada banyak masalah harus tetap santai dan tenang. Dibawa happy aja jangan sampai jadi beban pikiran. Karena kadang yang buat seseorang yang tadinya sehat kemudian jadi sakit ya pikiran nya sendiri. Intinya jaga makanan, olahraga, jangan banyak pikiran dan harus selalu happy"

"Ok dok!" inilah salah satu hal yang aku sukai ketika bertemu dengan dokter ini karna selalu ada wejangan hidup yang diberikannya.

Aku Ingin Engkau Slalu Hadir dan Temani Aku Disetiap Langkah Yang Meyakiniku Kau Tercipta Untukku.. tiba-tiba ponselku berdering dan di layar ponsel terlihat nama pacarku.

"Kayaknya ada yang mau malam mingguan nih"

"Hahaha,bisa aja dok. Obatnya masih sama ya dok?"

"Sama kok tapi dosisnya udah mulai saya kurangi yah. Ok itu aja. Inget ya pesen saya tadi"

"Ok dok, makasih ya dok"

.....

"Gimana? Udah ketemu dokternya?"

"Udah kok ketemu dokternya"

"Terus apa katanya?"

"Katanya harus happy dan seperti biasa dikasi obat lagi."

Melihat ekspresi wajahnya yang sangat tenang, membuat aku ingin menanyakan sesuatu padanya.

"Hmm.. Ari, kamu kan tau aku lagi sakit tapi kenapa masih mau sama aku? Kamu ga mau cari yang lain aja? Yang masih sehat ga sakit kayak aku?"

Pacarku hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Kemudian dia mengambil helm yang sejak tadi
sudah terpasang di samping jok motornya lalu ia memasangkannya dikepalaku sambil dia menjawab pertanyaanku tadi.

"Dari pertama aku memutuskan untuk sama kamu, aku udah siap dengan semuanya. Termasuk resiko kedepannya. Aku terima apapun dan bagaimanapun kamu. Dan aku berharap kita bisa jalani hubungan ini sama-sama sampai tujuan akhir kita nanti. Nah, tugas aku sekarang adalah ngebahagiain kamu orang yang aku sayang. Coba gini, kamu sayang sama orang terus orang itu tiba-tiba sakit lantas apa kamu tinggalin dia? Lalu cari yang lain?"

"Enggak"

"Nah, enggak nya pasti ada alasan kan? Ya gitulah jawaban pertanyaan kamu tadi. Lagian kan masih bisa diobatin bi"

Aku melihat raut wajahnya yang begitu tenang menjelaskan semuanya padaku.

"Sayang, makasih ya udah memperlakukan aku seperti tuan putri" tanpa sadar aku terharu dan meneteskan air mata kemudian cepat-cepat aku seka dengan jari telunjukku.

"Lho, kok malah mewek sih bi? Udah cantik gini mau pacaran kok mewek? I lucky to have you"

"Aku kalau dipuji pacar sendiri suka terharu sih. Jadi hari ini kita pacaran kemana?" kadang ada hal sederhana saja dari dirinya yang mampu membuat aku menjadi begitu sangat spesial. Tak perlu benda mewah atau hal-hal berlebihan cukup dengan pujian-pujian, perhatian dan semangatnya untukku terkadang itu saja sudah cukup.

"Yuk, ke suatu tempat yang romantis banget. Aku yakin kamu pasti suka. Lagian kayaknya udah lama kan aku engga ajak pacar aku ke tempat yang romantis"

"Sekali lagi, makasih ya sayang udah sangat tulus"

"Iya sama-sama bi, jadi kita mau ganti tempat pacaran jadi didepan RS aja atau tetap mau ke tempat romantis yang aku bilang tadi?"

"Hahahahahah, kamuuu..."

.......

Hari itu,
Seketika aku lupa dengan penyakitku.
Aku lupa dengan dosis obat yang dikasi dokter tadi.
Aku lupa dengan kekhawatiranku apakah pacarku masih bersedia bersama aku atau tidak.
Dan
Aku tak perduli seberapa bosannya harus minum obat setiap harinya.
Yang aku tau, aku adalah tuan putri yang sangat beruntung yang mempunyai pangeran yang sangat menyayangiku, bersedia menerimaku apa pun keadaannya, bagaimanapun terpuruknya aku dan selalu mensupport aku tanpa bosan.
Terima kasih pangerang sudah menyulap obat-obat yang ada dipikiraku menjadi bunga-bunga yang indah.

You May Also Like

0 komentar